Dulunya aku berpikir kalo wisuda tingkat SMA adalah merupakan hal yang sederhana. Perlu diketahui oleh khalayak ramai, lima hal yang terlintas di benakku mengenai wisuda masa SMA adalah:
- Duduk sekian lama sampek bokong kita merah merona.
- Maju ke depan dan menerima piagam dari Bapak Kepala Sekolah yang tercinta.
- Duduk sekian lama lagi, kali ini sampek bokong kita berubah menjadi lonjong kayak buah pepaya.
- Poto-poto bersama teman dan keluarga.
- Selesai.
Ceritanya, wisuda masa SMA-ku diselenggarakan hari Sabtu minggu lalu. Sejak pagi harinya udah banyak hal-hal yang tidak beres menimpa aku. Sehari sebelumnya Pak Kepsek udah mengumumkan bahwa pada hari-H wisuda para wisudawan dan wisudawati diharuskan kumpul di sekolah jam setengah tujuh tepat. Tapi, bukannya bangun pagi-pagi untuk kemudian berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar wisuda berjalan dengan aman-tentram-damai-adil-dan sejahtera, pas hari-H wisuda itu aku malah bangun jam tujuh dengan santainya.
Alhasil, waktu mandi yang biasanya aku lewatkan dengan nyanyi-nyanyi lagu yang sedang hits seperti Status Palsu (lagunya Vidi), Hampa Hatiku(lagunya Ungu), ato Asin Upilku(yang ini gak tau lagunya sapa), pagi itu jadi aku lewatkan dengan umpatan-umpatan dalem ati karena semuanya jadi serba terburu-buru.
Pas sampek di sekolah aku ditanyain sama salah satu guruku alasan kenapa aku sampek dateng terlambat. Karena ingat pepatah yang mengatakan bahwa "Jujur pangkal mujur, gak jujur bakal jadi tukang bubur " *emang ada yak pepatah kayak gitu?*, dengan memasang wajah tak berdosa aku menjawab, "Maap pak, tadi di jalanan macet." Nah lho, jadi bo'ong lagi, doakan aku biar besok gede gak jadi tukang bubur. Amin.
Akhirnya, peperangan yang sebenernya dimulai juga. Ya, duduk berlama-lama melewati banyak sekali rangkaian acara wisuda. Satu jam pertama aku masih menjalaninya dengan hati yang berbunga-bunga. Aku masih bisa senyum-senyum gak jelas ngliat diriku sendiri yang kalo diamati sebenernya gak jauh-jauh amat sama James Bond yang lagi pakek setelan jas.
Satu jam selanjutnya aku mulai merasa resah, gundah, dan gelisah. Duduk mulai gak nyaman, bokong geser ke kiri dan ke kanan. Tapi aku tetap berusaha menenangkan diriku. Hatiku berbisik dengan lembutnya.."Sabar, sabar, sabar cenk. Kamu pasti bisa melewati semua ini."
Aku yang dasarnya tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar akhirnya mulai mencari serangkaian kegiatan untuk menghabiskan waktu. Mulai pasang headset dan dengerin musik di hape, bikin pesawat terbang dari bekas kardus makanan, sampek sibuk nyari upil seukuran batu kali untuk kemudian ditempelkan di baju teman-teman.
Beberapa menit kemudian kesabaranku mencapai batasnya. Hatiku yang tadinya berbisik dengan lembutnya udah mulai bergejolak dan berteriak.."BAKAR, BAKAR, BAKAR CENK. KAMU PASTI BISA MEMBAKAR SEMUA INI." Ya, emang hanya perbedaan tipis yang memisahkan antara kata SABAR dan BAKAR.
Akhirnya daripada ijazahku ditahan karena membakar semuanya dan mengacaukan acara wisuda, aku memilih untuk ijin ke kamar mandi. Bukan, aku ke kamar mandi bukannya mau mancing ikan Lou Han di lobang kloset. Aku juga bukan mau merubah tulisan "SEHABIS KENCING HARAP DISIRAM" menjadi "SEHABIS KENCING HARAP DIJILAT". Aku ke kamar mandi cuman mau menikmati asap tembakau, menenangkan diri sendiri.
Sehabis kembali dari kamar mandi, aku kembali bisa duduk dengan tenang. Tapi itu gak bertahan lama. Beberapa menit kemudian aku kembali jadi gila. Rasa hati ingin berteriak, mengakhiri semuanya. Satu menit rasanya kayak satu taun. Aku mulai garuk-garuk jidat, garuk-garuk idung, dan garuk-garuk pantat yang sepertinya sudah benar-benar merah merona dan berubah bentuk menjadi lonjong seperti buah pepaya.
Akhirnya, setelah merasa bener-bener udah lumutan dan pohon trembesi udah tumbuh dari lobang kupingku, acara wisuda pun selesai. Aku bener-bener lega dan senang gembira. Pingin rasanya merayakannya dengan koprol ke depan dan belakang dilanjutkan dengan lompat harimau serta gerakan-gerakan senam lantai idiot yang lainnya.
Malem harinya di rumah aku mikir. Akhirnya aku bukan anak SMA lagi. Selamat tinggal masa SMA, selamat tinggal seragam putih abu-abu, selamat tinggal gado-gado kantin seharga empat ribu. Ucapkan selamat datang untuk dunia yang baru, dunia mahasiswa yang mengharu biru.
Sekarang, mari memulai hidup baru.
-KECENKHATKOR bornboredie-


